BorderPay← Blog

Blog

REST API vs Webhook: Kapan Pakai yang Mana

Oleh Admin5 mnt baca

Bagian dari topik: Integrasi API Pembayaran untuk Developer

REST API vs Webhook: Kapan Pakai yang Mana
Foto: Daniil Komov / Pexels

Saat pertama kali mengintegrasikan pembayaran, banyak developer bingung membedakan REST API dan webhook. Keduanya melibatkan komunikasi HTTP dan pertukaran data JSON, tapi bekerja dengan arah yang berlawanan. Salah memahami perbedaan ini bisa berujung pada aplikasi yang terus-menerus menanyakan status pembayaran secara boros, atau justru melewatkan notifikasi penting. Artikel ini menjelaskan cara kerja keduanya secara sederhana, kapan sebaiknya memakai masing-masing, dan bagaimana keduanya justru saling melengkapi dalam sistem pembayaran yang andal.

Cara Kerja REST API

REST API mengikuti pola request-response: aplikasi Anda (client) mengirim permintaan ke server, lalu server membalas dengan jawaban. Anda yang memulai percakapan. Dalam konteks pembayaran, REST API dipakai untuk aksi yang Anda inisiasi sendiri:

  • Membuat transaksi baru — mengirim data pesanan untuk menghasilkan tagihan atau kode pembayaran.
  • Mengecek status transaksi — menanyakan apakah suatu pembayaran sudah lunas.
  • Melakukan refund — meminta pengembalian dana atas transaksi tertentu.
  • Mengambil daftar transaksi — menarik data untuk laporan atau rekonsiliasi.

Ciri utamanya: aplikasi Andalah yang menentukan kapan permintaan dikirim. Server hanya menjawab ketika ditanya. Untuk memahami pola integrasi ini lebih dalam, integrasi API pembayaran menjelaskan struktur request dan autentikasi yang umum dipakai.

Cara Kerja Webhook

Webhook membalik arahnya. Alih-alih Anda bertanya ke server, server-lah yang memberi tahu Anda ketika sesuatu terjadi. Anda cukup menyediakan sebuah URL endpoint, lalu server pembayaran akan mengirim data ke URL itu setiap kali ada peristiwa penting—misalnya pembayaran berhasil, gagal, atau kedaluwarsa.

Analoginya sederhana: REST API seperti Anda menelepon toko berulang kali menanyakan apakah paket sudah datang; webhook seperti toko yang menelepon Anda begitu paket tiba. Yang kedua jelas lebih efisien.

Dalam pembayaran, webhook sangat vital karena konfirmasi lunas seringkali datang secara asinkron—pelanggan membayar virtual account beberapa jam setelah checkout, dan Anda perlu tahu begitu itu terjadi tanpa harus terus-menerus mengecek. Pelajari cara membangunnya di webhook pembayaran.

Tanpa webhook, satu-satunya cara mengetahui bahwa pembayaran sudah lunas adalah dengan terus menanyakan status lewat REST API secara berkala—pola yang disebut polling. Masalahnya, polling boros: Anda mengirim ratusan atau ribuan permintaan yang sebagian besar dijawab "belum bayar", membebani server Anda dan server penyedia. Selain itu, ada jeda antara peristiwa nyata dengan saat Anda menyadarinya, tergantung seberapa sering Anda mengecek. Webhook menghilangkan pemborosan ini karena Anda hanya diberi tahu tepat saat ada perubahan, tanpa satu pun permintaan sia-sia.

Perbedaan Utama Keduanya

Agar tidak keliru, berikut ringkasan perbedaan mendasar:

  • Inisiator — pada REST API, client yang memulai; pada webhook, server yang memulai.
  • Waktu — REST API terjadi saat Anda meminta; webhook terjadi saat peristiwa muncul, kapan pun itu.
  • Arah data — REST API menarik data (pull); webhook mendorong data (push) ke Anda.
  • Kebutuhan infrastruktur — REST API cukup dengan kemampuan mengirim HTTP; webhook mengharuskan Anda punya endpoint publik yang bisa diakses server pembayaran.

Perbedaan terakhir sering terlupa: untuk menerima webhook, aplikasi Anda harus punya URL yang dapat dijangkau dari internet, dan endpoint itu harus memverifikasi keaslian setiap notifikasi yang masuk.

Kapan Pakai yang Mana

Kabar baiknya, dalam praktik Anda hampir selalu memakai keduanya bersamaan. Berikut panduan kapan masing-masing berperan:

Gunakan REST API untuk:

  • Memulai transaksi ketika pelanggan checkout.
  • Melakukan aksi terjadwal seperti refund atau pembatalan.
  • Mengambil data historis untuk laporan.

Gunakan webhook untuk:

  • Menerima notifikasi real-time saat status pembayaran berubah.
  • Memicu proses otomatis seperti mengirim email konfirmasi atau memperbarui status pesanan.

Pola yang direkomendasikan adalah menjadikan webhook sebagai sumber kebenaran utama untuk perubahan status, lalu memakai REST API sebagai cadangan—misalnya mengecek ulang status secara periodik bila webhook karena suatu alasan tidak sampai. Kombinasi ini memberi keandalan tanpa polling berlebihan. Baca menyimpan status pembayaran untuk pola menyimpan state yang konsisten.

Menangani Keandalan dan Kegagalan

Webhook hebat, tapi tidak sempurna—jaringan bisa gagal, server Anda bisa sedang down, atau notifikasi bisa datang lebih dari sekali. Karena itu, sistem yang matang perlu memikirkan:

  • Idempotensi — pastikan memproses notifikasi yang sama dua kali tidak menyebabkan efek ganda seperti pesanan terkirim dobel. Pelajari di idempotency API pembayaran.
  • Verifikasi tanda tangan — cek signature setiap webhook agar tidak menerima notifikasi palsu.
  • Retry dan fallback — bila webhook gagal diterima, gunakan REST API untuk merekonsiliasi status yang tertinggal.

Menguji semua skenario ini di lingkungan lokal sebelum go-live sangat dianjurkan. Panduan uji webhook lokal membantu Anda mensimulasikan notifikasi tanpa perlu transaksi sungguhan.

Contoh Alur Nyata dalam Pembayaran

Agar konsep ini konkret, bayangkan alur sebuah transaksi virtual account dari awal sampai akhir:

  1. Pelanggan checkout. Aplikasi Anda memanggil REST API untuk membuat transaksi dan mendapat nomor virtual account.
  2. Nomor ditampilkan ke pelanggan, yang lalu melakukan transfer entah beberapa menit atau beberapa jam kemudian.
  3. Pelanggan membayar. Begitu dana masuk, server pembayaran mengirim webhook ke endpoint Anda berisi status "lunas".
  4. Aplikasi Anda memproses webhook — memperbarui status pesanan, mengirim email konfirmasi, dan menyiapkan pengiriman barang.
  5. Sebagai pengaman, sebuah proses terjadwal memanggil REST API untuk mengecek ulang transaksi yang statusnya belum jelas, menangkap kasus di mana webhook mungkin tidak sampai.

Perhatikan bagaimana REST API dan webhook bergantian peran di sepanjang alur. REST API dipakai di titik-titik yang Anda inisiasi sendiri, webhook menangani peristiwa yang datang di luar kendali waktu Anda. Inilah pola yang membuat sistem pembayaran andal sekaligus efisien—bukan memilih salah satu, melainkan memadukan keduanya sesuai kekuatan masing-masing.

Posisi BorderPay

Sebagai catatan jujur: BorderPay adalah lapisan teknologi (software) di atas mitra Payment Gateway yang berlisensi Bank Indonesia; pemrosesan dan penyimpanan dana dilakukan oleh mitra berlisensi. Kami menyediakan REST API untuk membuat dan mengelola transaksi, serta pengiriman webhook untuk memberi tahu aplikasi Anda saat status berubah.

Fitur API dan webhook yang tersedia mengikuti dokumentasi resmi kami dan status akun Anda; kami berupaya tidak mengklaim endpoint atau event yang belum aktif. Untuk keandalan, kami mendorong merchant menerapkan idempotensi dan verifikasi tanda tangan sesuai praktik yang dijelaskan di atas.

Penutup

REST API dan webhook bukan pilihan "salah satu"—keduanya adalah dua sisi dari integrasi pembayaran yang sehat. REST API untuk aksi yang Anda mulai, webhook untuk peristiwa yang datang sendiri. Dengan memahami arah dan peran masing-masing, serta menyiapkan penanganan idempotensi dan fallback, aplikasi Anda akan tahan banting menghadapi kompleksitas dunia pembayaran nyata. Jika Anda mencari integrasi dengan REST API dan webhook yang terdokumentasi jelas di atas mitra berlisensi, BorderPay bisa menjadi opsi yang layak dicoba.

Siap menerima pembayaran?

Coba integrasi & mode test gratis sejak hari pertama.

Daftar gratis →